Laman

Jumat, 18 Maret 2016

Murid Gembira Guru Bahagia

Saat ini tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan murid-murid SD, SMP  dan SMA/SMK yang akan menghadapi UN (Ujian Nasional). Perjuangan mereka yang dirintis sejak masuk sekolah ditentukan saat ini yaitu ketika menghadapi UN itu.

Guru tentu saja dituntut bijak dan arif supaya murid-muridnya merasa gembira dan bukan membebani mereka, sehingga bebannya semakin berat. Kegembiraan yang bisa dibuat oleh guru sebaiknya tidak dalam jangka pendek (short term) dan bersifat sesaat dengan tujuan yang penting murid lulus. Tetapi buatlah kegembiraannya itu dalam jangka menengah (medium term) dan jangka panjang (long term), berupa output, outcome dan dampak (impact) yang baik.

Output yang dimaksudkan di sini adalah keberhasilan guru dalam membantu dan mempersiapkan murid-muridnya lulus dalam menempuh Ujian Sekolah maupun UN. Guru yang memiliki hati nurani merasa bahagia melihat murid lulus. Namun yang patut diperhatikan guru jangan asal murid bisa lulus memperoleh nilai UN tinggi tanpa mempedulikan etika kejujuran, sehingga menghalalkan segala cara. Jika hal ini dilakukan guru, murid akan menikmati kegembiraan dalam waktu yang sangat singkat yaitu saat pengumuman kelulusan yang diekpresikan dengan hal-hal yang kurang santun misalnya corat-coret baju dan konvoi sepeda motor keliling kota.

Bahkan jika etika kejujuran yang diajarkan selama ini diabaikan demi mencapai tujuan yang penting siswa lulus, guru secara tidak langsung telah merusak masa depan murid dengan menghilangkan nilai kejujuran pada diri murid. Seumpama kelak menjadi pejabat akan menjadi pejabat yang tidak jujur, korup dan tidak amanah.

Sementara Outcome adalah kegembiraan yang diberikan guru kepada muridnya setelah lulus dari sekolahnya dengan diterimanya di sekolah yang lebih tinggi sesuai dengan keinginan murid dan adanya pengakuan dari pihak luar terhadap lulusan sekolah asal. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya murid-muridnya yang diterima di sekolah-sekolah favorit.

Berarti dalam ini ada pengakuan dari pihak luar terhadap mutu lulusan sekolah tersebut. Kebahagiaan murid tentunya berbeda dibandingkan ketika diumumkan bahwa dia lulus dengan NUN sekian, karena apalah artinya lulus dengan nilai tinggi jika tidak diterima di sekolah favorit seperti yang diinginkan. Gurupun semakin bahagia mendengar muridnya diterima di sekolah-sekolah favorit dan ini berarti kebahagiaan guru bertambah lama.

Dampak (impact) merupakan hasil dalam jangka menengah/panjang yang ingin dicapai guru dalam mengantarkan muridnya memperoleh kegembiraan jangka panjang. Hal ini bisa buktikan, jika di sekolah barunya si murid lebih berprestasi. Misalnya, menjadi rangking satu, menjadi siswa teladan, juara di bidang olah raga dan seni, juara olimpiade sains dan kejuaraan lain.

Bahkan keberhasilan itu bisa dirasakan ketika si murid hidup ditengah masyarakat setelah lulus dari sekolah. Misalnya, si murid menjadi pejabat yang amanah, pengusaha sukses yang dermawan, guru atau dosen yang mencerdasakan anak bangsa lebih maju dan mandiri.

Tentunya kegembiraan yang dirasakan murid semakin lama begitu pula dengan kebahagiaan yang dirasakan guru akan dibawa sampai ia pensiun/tua dan kelak menjadi amal baik yang tidak terputus saat guru tersebut sudah menghadap Sang Khalik. 

*) Penulis, Guru SMPN 1 Boyolangu, Tulungagung, Jatim, Alumni S2 Manajemen Kepengawasan Pendidikan MM UGM Yogyakarta.

 Dimuat pada kolom Pendapat Guru, Koran Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, Jumat, 31 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar