Saat
ini tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan murid-murid SD, SMP dan
SMA/SMK yang akan menghadapi UN (Ujian Nasional). Perjuangan mereka yang
dirintis sejak masuk sekolah ditentukan saat ini yaitu ketika
menghadapi UN itu.
Guru tentu saja dituntut bijak dan arif
supaya murid-muridnya merasa gembira dan bukan membebani mereka,
sehingga bebannya semakin berat. Kegembiraan yang bisa dibuat oleh guru
sebaiknya tidak dalam jangka pendek (short term) dan bersifat sesaat dengan tujuan yang penting murid lulus. Tetapi buatlah kegembiraannya itu dalam jangka menengah (medium term) dan jangka panjang (long term), berupa output, outcome dan dampak (impact) yang baik.
Output yang dimaksudkan di sini adalah
keberhasilan guru dalam membantu dan mempersiapkan murid-muridnya lulus
dalam menempuh Ujian Sekolah maupun UN. Guru yang memiliki hati nurani
merasa bahagia melihat murid lulus. Namun yang patut diperhatikan guru
jangan asal murid bisa lulus memperoleh nilai UN tinggi tanpa
mempedulikan etika kejujuran, sehingga menghalalkan segala cara. Jika
hal ini dilakukan guru, murid akan menikmati kegembiraan dalam waktu
yang sangat singkat yaitu saat pengumuman kelulusan yang diekpresikan
dengan hal-hal yang kurang santun misalnya corat-coret baju dan konvoi
sepeda motor keliling kota.
Bahkan jika etika kejujuran yang
diajarkan selama ini diabaikan demi mencapai tujuan yang penting siswa
lulus, guru secara tidak langsung telah merusak masa depan murid dengan
menghilangkan nilai kejujuran pada diri murid. Seumpama kelak menjadi
pejabat akan menjadi pejabat yang tidak jujur, korup dan tidak amanah.
Sementara Outcome adalah kegembiraan yang
diberikan guru kepada muridnya setelah lulus dari sekolahnya dengan
diterimanya di sekolah yang lebih tinggi sesuai dengan keinginan murid
dan adanya pengakuan dari pihak luar terhadap lulusan sekolah asal. Hal
ini dibuktikan dengan banyaknya murid-muridnya yang diterima di
sekolah-sekolah favorit.
Berarti dalam ini ada pengakuan dari
pihak luar terhadap mutu lulusan sekolah tersebut. Kebahagiaan murid
tentunya berbeda dibandingkan ketika diumumkan bahwa dia lulus dengan
NUN sekian, karena apalah artinya lulus dengan nilai tinggi jika tidak
diterima di sekolah favorit seperti yang diinginkan. Gurupun semakin
bahagia mendengar muridnya diterima di sekolah-sekolah favorit dan ini
berarti kebahagiaan guru bertambah lama.
Dampak (impact) merupakan hasil dalam
jangka menengah/panjang yang ingin dicapai guru dalam mengantarkan
muridnya memperoleh kegembiraan jangka panjang. Hal ini bisa buktikan,
jika di sekolah barunya si murid lebih berprestasi. Misalnya, menjadi
rangking satu, menjadi siswa teladan, juara di bidang olah raga dan
seni, juara olimpiade sains dan kejuaraan lain.
Bahkan keberhasilan itu bisa dirasakan
ketika si murid hidup ditengah masyarakat setelah lulus dari sekolah.
Misalnya, si murid menjadi pejabat yang amanah, pengusaha sukses yang
dermawan, guru atau dosen yang mencerdasakan anak bangsa lebih maju dan
mandiri.
Tentunya kegembiraan yang dirasakan murid
semakin lama begitu pula dengan kebahagiaan yang dirasakan guru akan
dibawa sampai ia pensiun/tua dan kelak menjadi amal baik yang tidak
terputus saat guru tersebut sudah menghadap Sang Khalik.
*) Penulis, Guru SMPN 1 Boyolangu, Tulungagung, Jatim, Alumni S2 Manajemen Kepengawasan Pendidikan MM UGM Yogyakarta.
Dimuat pada kolom Pendapat Guru, Koran Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, Jumat, 31 Maret 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar